Jika saja nanti bisa memperistri seorang wanita hispanik, tentu anak-anak saya bakal jadi lebih ganteng2 dan cantik2. Itu juga taunya kar'na saya dulu pernah baca tentang artikel mengenai betapa kuatnya pengaruh gen seorang ibu... dirunut dari penelitian tentang gen dari manusia teruta di dunia yang ditemukan di Afrika yang ternyata adalah seorang perempuan. Entah apapun hubungannya, tetap saja saya tidak mengerti dan tidak berniat untuk mendalami. Untunglah ga' masuk lab. bimol/genetika dan hanya berniat untuk bisa nanam bibit mangrove yang banyak di pesisir negara kita. Tapi, fantasi menjelang tidur saya kerap buyar kala menyadari suara-suara wanita hispanik yang terkenal berat dan rendah sekali. Ooohhh, ada apa dengan suara itu??
Corpo Consciente
Everyone Have A Price...
12.5.08
Hispanik Mejik Women
Jika saja nanti bisa memperistri seorang wanita hispanik, tentu anak-anak saya bakal jadi lebih ganteng2 dan cantik2. Itu juga taunya kar'na saya dulu pernah baca tentang artikel mengenai betapa kuatnya pengaruh gen seorang ibu... dirunut dari penelitian tentang gen dari manusia teruta di dunia yang ditemukan di Afrika yang ternyata adalah seorang perempuan. Entah apapun hubungannya, tetap saja saya tidak mengerti dan tidak berniat untuk mendalami. Untunglah ga' masuk lab. bimol/genetika dan hanya berniat untuk bisa nanam bibit mangrove yang banyak di pesisir negara kita. Tapi, fantasi menjelang tidur saya kerap buyar kala menyadari suara-suara wanita hispanik yang terkenal berat dan rendah sekali. Ooohhh, ada apa dengan suara itu??
Diocehkan oleh Dip Tuadi pada 2:47 PM 2 mengoceh
Kategori: Lagi Nyantai
Manusia Setrikaan
Beli tiket yang jam 7:15 malem, sambil nunggu kita maen ke Gramed. Saya langsung ke inget postingan temen, si Rime Kopipakegula, tentang bukunya Pidi Baiq. Akhirnya muter sana sini ga' nemu-nemu, tanya ama mba'2 yang cantik mirip Sandra Bullock kalo pake cadar (ada yah..? entahlah) di information centre-nya. Nemu deh tuh buku. Ternyata dari tadi buku itu mojok di deket pintu masuk. Dasar rabun, ga' ngeliat juga dari tadi, atau terlalu bego nyariin si calon dokter yang sibuk milih2 majalah fashion tentang kebaya.. entah untuk apa. Angkut langsung, bayar ke kasir. Kita pergi nyari yang anget2 di BMC. Udah tinggal 15 menit lagi, kita cabut, ke studio 2 di lantai paling atas.
Jreng.. ternyata banyak banget yang ngantri. Saya yang ga' terlalu suka (atau phobia) terhadap keramaian langsung nyari tempat yang agak lowong di deket pintu studio 2. Si calon dokter nguntil di belakang. Sambil nunggu, baca-baca bentar buku "Drunken Monster"-nya Pidi Baiq yang entah terlalu baik atau terlalu jail, entahlah.. yang penting saya menikmati bacaan itu. Lampu merah udah nyala yang tandanya kita udah bisa masuk. Si calon dokter pun ngeluarin tiket sambil nenteng pop corn XL yang tadi dibelinya. Dasar, si calon dokter yang tukang ngemil. Kita langsung naik ke kursi 10-11 J. Ramenya orang yang nonton ternyata harus ngebuat film ini diputar di dua studio sekaligus pada waktu yang bersamaan. Bahkan, Speed Racer yang juga lagi tayang cuman satu studio (setau saya sih..). Kemudian, dimulailah acara kita kali ini.
Di tengah2 tontonan, ada seorang ibu disamping kursi saya yang sampai tiga kali ngangkat HP di dalam studio. Beuh, mau ga' mau lama kelamaan bete juga. Mana ngomongnya kenceng lagi mirip ibu2 nawar barang di pasar. Kaya'nya tuh ibu lagi ngomong ama anaknya yang lagi mo beli barang tapi duitnya kurang. Yah, dikit2 ngupinglah (bukan nguping juga sih, secara suaranya juga sekeras tukang siomay). Mana ada satu lagi anak cowo'nya, yang lagi ditemenin nonton, bawel lagi. Banyak nanya.. tentang inilah, itulah.. God!!!! Secara keseluruhan, lingkungan yang tidak mendukung membuat saya tinggal setengah2 ngikutin film di penghujung tayangan. Film abis, kita cabut. Waktu udah setengah sepuluh malam. Keluar dari parkiran PVJ, kita muter ke Sukajadi atas buat ngehindarin polisi. Polisi? Ya, saya punya phobia yang cukup aneh. Phobia sama polisi. Mungkin hanya hal itu yang dapat menyandingkan saya dengan Alfred Hitchcock yang juga phobia ama polisi. Awalnya kar'na waktu SIM saya mati sepulang dari Aceh tahun lalu, sempet ketunda (atau malas) dua bulan ngurus SIM Bandung kar'na SIM yang mati itu keluaran kampung halaman saya. Mau ga' mau harus buat SIM yang baru, ga' bisa perpanjangan. Waktu itu sering banget ngehindar dari polisi sampe sempet kabur waktu ada pemeriksaan di jalan. Masih ada warna biru di paha kanan saya kar'na tendangan polisi yang coba mencegat dari kekaburan saya itu. Yah, itulah.. sampe akhirnya harus muter ke atas. Saya lupa nama jalannya. Nganter si calon dokter ke rumah kontrakannya trus balik ke kosan.
Sesampai di kosan, saya laporan ama si calon dokter kalo udah nyampe. Kaya' korps baju loreng aja musti lapor2an. Tapi, ya udahlah. Kalo cuman tentang kabar yang dia minta, masa' ga' bisa saya penuhi sementara waktu jaman udah ga' imut dulu saya udah sering banget ngebo'ong ama dia. Saya sudah capek untuk berbohong, setidaknya untuk hal-hal kecil. Trus kita ngobrol. Sebenernya ga' penting juga sih. Tapi cukuplah untuk ngebuat saya untuk berkaca. Berkaca untuk melihat apakah saya masih imut atau ga'...
Jadi gini, awalnya kita ngomongin film itu. Menurut saya, cuman ada satu hal yang ngebuat film Iron Man itu janggal. Tentang gimana sih sebenernya penjelasan bahwa alat bulet yang terang benderang di dadanya itu bisa ngebantu ngurangin masuknya pecahan bom ke pembuluh darah/jantung si Iron Man. Senyawa yang dipake, yang katanya Pollonium kalo ga' salah, gimana bisanya sih jadi kaya' generator buat tubuh si Iron Man yang ngebantunya tetep bertahan hidup. Ya, ga' perlu dijelasin sampe ngejelimet sih, cuman kan ini film masuk ke genre sci-fi. Ya buat saya, se-fiksi apapun, tetep aja harus ada sisipan penjelasan tentang science yang dipake jadi bumbu film.
Si calon dokter cape'. Sampe katanya males ngajakin nonton lagi soalnya tiap abis nonton pasti ada aja yang saya protes. Mana sampe ngelebar2 ngomongin ibu dan anak yang bawel tadi di samping saya. Loh, saya kan bukannya protes, saya cuman pengen tau. Itu aja kok. Si calon dokter cuman pengen nonton film-film yang seneng2 aja kar'na dia sudah terlalu lelah dengan kegiatan ko-ass-nya itu. Setelah nonton, dia cuman pengen film itu udah lewat gitu aja. Menurut saya, setiap film itu pasti punya momen-nya. Film yang bagus punya momen yang ga' bisa gampang kita lupa. Setelah debat kusir ga' penting itu, akhirnya kita bermufakat untuk menikmati film saja, setelah itu ya sudah. Ok-lah, toh ga' ada ruginya buat dia. Sekali lagi, kalo cuman tentang itu yang dia minta, masa' ga' bisa saya penuhi. Sayapun berdiri dari tempat tidur dan berjalan ke arah kaca (cermin lebih tepatnya). Meyakinkan bahwa saya masih imut dan berpikir... terlalu naif-kah saya dalam hidup?? Mencari segala sesuatunya sampai ke akar-akarnya sampai tak sadar otak ini telah berhibernasi. Bagaimanapun juga, saya mencintai saat-saat kesendirian saya.
Diocehkan oleh Dip Tuadi pada 1:53 PM 0 mengoceh
Kategori: Lagi Nonton, Lagi Nyantai
The Power of Love
Nyentil tentang agama bentar, ga’ ada agama yang membenarkan pemeluknya untuk pindah agama. Pindah agama pada dasarnya dianggap publik dan agama itu sendiri sebagai sebuah bentuk pengkhianatan iman (itu versi saya). Jadi menurut saya sifat agama sebenernya mengekang. Untuk apa? Ya jelas untuk melestarikan keberadaan agama itu biar tetep ada. Sekarang balik ke soal cinta beda agama. Saya kagum sekaligus benci sama karya-karya Shakespeare, terutama karyanya yang paling hebat tentang cintabelece Romeo & Juliet. Kagum, karena pada jamannya kisah fantasi cinta seperti itu cukup mampu menggugah perasaan. Mungkin jika saya hidup pada jamannya saya juga akan tergugah. Untung saya hidup di jaman digital seperti ini yang sudah terlalu muak mendengar kisah yang sama dari versi berbeda terlebih dulu yang ternyata justru merusak karya aslinya. Benci, karena saya menyadari konflik cinta dua tokoh tersebut kurang mendasar. Menurut saya, hal dasar yang memberi identitas manusia itu adalah soal keyakinan atau iman. Manusia memiliki identitas yang menjadi dasar manusia untuk saling berinteraksi. Jadi, dalam bermasyarakat cukup dikenali dua jenis manusia yaitu manusia yang memiliki keyakinan/iman dan yang tidak. Itu sudah cukup untuk membagi lagi jenis-jenis manusia beranak pinak seperti manusia baik dan jahat, kaya dan miskin, rajin dan malas, pintar dan bodoh, dan lain sebagainya.
Dasar keyakinan/iman memberikan identitas bagi manusia sehingga jika terjadi konflik intra atau inter individu maka mau tidak mau akan mempengaruhi tingkat keterkikisan identitas sebagai manusia. Balik lagi ke soal cinta beda agama, lalu saya mulai berpikir bahwa Shakespeare terlalu takut untuk mengikis identitas karakter utamanya dalam roman tersebut. Jika identitas telah terkikis, maka bagaimana caranya untuk membangun sebuah identitas yang baru lagi kecuali bertransformasi? Yah, itu masih meurut saya sih. Untungnya, karakter Juliet yang cantik dan setia –seperti yang terfantasikan oleh saya- tidak perlu ditransformasikan menjadi karakter lain yang bisa-bisa tidak dapat saya bayangkan lagi.
Masalah cinta yang terjadi antara dua orang yang berbeda agama itu sebenarnya bisa tidak terjadi jika setiap individu dapat menahan dirinya masing-masing jika sudah menyadari bagaimana identitasnya. Lalu yang muncul di benak saya, jika soal cinta harus tertahan-tahan dan manipu diri sendiri apa sebenarnya esensi dari munculnya cinta itu sendiri? Apa hanya sekedar untuk dapat belajar memahami realita hidup? Cinta ada tidak hanya dibangun dengan realita tetapi juga fantasi. Mendapatkan keseimbangan antara realita dan fantasi itulah yang tidak mudah. Kenapa cinta yang harusnya bisa saling dinikmati menjadi sama-sama diresahkan karena ada lingkungan lain yang harus diperhatikan juga. Masalah lingkungan lain itu, menurut saya, sudah menjadi bagian permasalahan lain. Permasalahan dimana lingkungan yang ada di sekitar memiliki kewajiban untuk mengasah identitas seorang manusia agar tidak terkikis. Lingkungan tidak dapat mengintervensi atau hanya menerima setengah-setengah transformasi identitas manusia.
Jadi gini, apakah ada yang namanya kekuatan cinta yang dapat menembus segala tebalnya dinding pembeda sekalipun itu konflik agama? Ada satu dua contoh pasangan beda agama yang bisa dibilang tentram-tentram saja dalam membina keluarga mereka. Apakah kondisi seperti itu bisa dibilang manifestasi dari kekuatan cinta? Setelah ada permasalahan yang muncul di awal setiap pasangan beda agama yang memiliki niat untuk menikah berupa permasalahan dengan lingkungannya, masalah di depan juga tak kalah besar mengingat bagaimana dengan identitas keturunan mereka? Jadi, setiap masalah yang akan datang yang sebenarnya sudah diketahui, apakah akan tetap terus menjadi hantu yang meresahkan dan mungkin sangat bisa saja mengurungkan niat untuk menikah?. Pada letak inilah saya belum dapat tuntas memikirkan apa sebenarnya kekuatan cinta itu menurut saya karena saya masih sangat sulit untuk membedakan kekuatan dan kenekatan
Cinta tentunya tidak hadir untuk memberikan kesusahan. Kekuatan cinta yang ada seharusnya dapat menjadi jalan keluar meski tidak dapat memuaskan semua pihak. Kekuatan cinta itu buat saya, paling tidak sampai dengan saat ini, sudah cukup saat saya bisa memiliki cinta dari orang yang saya cintai yang dapat mencari dan mempertahankan identitasnya. Jadi untuk apa lagi saya berbohong terhadap cinta dalam sebuah ikatan keluarga?? Well, jika saja ada orang yang tidak saya cintai mau menikah dengan saya maka itu adalah dosa terbesar saya.
Diocehkan oleh Dip Tuadi pada 12:38 PM 0 mengoceh
Kategori: Lagi Mikir
Oemar Bakri & Bill Gates
Yah, sebuah tujuan yang mulia meski agak muluk-muluk karena dihubung-hubungkan dengan penerapan teknologi yang bisa menurunkan tingkat kemiskinan. Ada satu tokoh hebat Indonesia, James Riyadi si pembesar dari Lippo Bank, yang menanyakan bagaimana implementasi teknologi terhadap pengurangan tingkat kemiskinan itu. Saya cuman bisa berdecak dalam hati bahwa akan lebih baik sekali jika ada penerapan teknologi yang bisa mengurangi kadar keserakahan tiap orang. Karena mau dengan teknologi bagaimanapun, orang miskin tetaplah orang miskin dan orang kaya tetaplah orang kaya, hanya perubahan derajatlah yang terjadi bagi masing-masing individu.
Waktu masih nonton siaran langsung itu, saya jadi teringat kasus UAN di sekolah-sekolah yang dilangsungkan beberapa pekan lalu. Masalah itu tetap terus terjadi dari tahun ke tahun sejak diterapkannya pola penilaian kelulusan bagi mereka yang masih berseragam utnuk mendapatkan pendidikan. Seolah mencari-cari kambing hitam tentang siapa yang salah, seharusnya tentang kasus ini bukanlah tentang siapa yang salah tetapi apa yang salah. Sistem penilaian mutlak itulah yang salah. Kebijakan yang menurut saya cukup aneh karena proses belajar mengajar selama beberapa tahun hanya dinilai berdasarkan kegiatan beberapa hari. Sudah se-valid itukah penilaiannya?
Wajah pendidikan di negara kita agak susah untuk bergerak maju meski sebentar lagi sudah satu abad kebangkitan nasional. Bapak saya yang dulu waktu SD harus jalan 5 kilo ke sekolahnya ternyata masih punya teman-teman juga jaman sekarang di daerah pedalaman sana. Permasalahan pembangunan yang tidak merata tidak cukup diselesaikan dengan otonomi daerah saja karena pada kenyataannya sekitar 70-an % APBN kita dialokasikan untuk pembayaran utang beserta bunga-bunga mawarnya yang berharum kematian. Lantas, bagaimana penerapan teknologi dalam dunia pendidikan, yang tentunya merupakan cita-cita mulia Bill Gates tersebut, jika Oemar Bakri masih bertebaran di daerah-daerah dengan bayaran kecil serta gedung-gedung sekolah yang tak menunjang? Boro-boro niat pemerintah dalam program satu komputer untuk duabelas anak dapat terwujud, atap bocor dan dinding berlubang saja belum terselesaikan. Boro-boro semua anak di Indonesia bisa melek komputer jika anak-anak itu masih tetap saja minum susu air tajin dan nasi aking…
Diocehkan oleh Dip Tuadi pada 12:30 PM 0 mengoceh
Kategori: Lagi Mikir
8.5.08
PSMS oh.. PSMS
Musim bersejarah berikutnya adalah musim kompetisi 2001. Pada musim ini, PSMS Medan tidak hanya berstatus peringkat pertama wilayah barat, namun juga menjadi juara fase babak 8 besar grup A yang kebetulan berlangsung di Medan hingga melaju ke babak semi final bertemu PSM Makassar. Yang paling saya ingat setelah pertandingan di Senayan malawan PSM Makassar itu adalah keberhasilan (atau disebut pula kegagalan) PSMS Medan di Senayan menjadi bahan pembicaraan orang banyak, mulai di lingkungan sekolah dari guru-guru sampe tukang sapu, petugas parkir, satpam, pedagang-pedagang di Pasar Horas, sopir dan kernet angkutan umum sampai bus sekolah yang selalu mengantarkan saya pergi dan pulang ke rumah. Komentar mereka beragam, ada yang positif dan negatif. Wah, itu prestasi yang membanggakan menurut saya. Dan menjadi bukti bahwa sangat banyak warga Sumatra Utara, khususnya Pematang Siantar tempat saya tinggal dulu, memberikan perhatian yang besar terhadap prestasi PSMS Medan. Namun sayang, perhatian masyarakat umum hanya tertuju jika tim ini berprestasi bagus. Awak tim dielu-elukan. Tapi saat gagal, mereka dilupakan. Hal ini yang terjadi usai kegagalan melaju ke babak final untuk menghadapi Persija Jakarta yang akhirnya keluar sebagai juara. Buat saya, tim PSMS Medan tahun 2001 itu adalah tim terbaik sampai tahun itu sepanjang saya mengikuti perkembangan tim dari kompetisi semi-pro dijalankan. Di bawah mistar ada Sahari Gultom. Di belakang ada Slamet Riyadi dan Luis Eduardo. Di tengah ada Edu Juanda dan Ariel Guterrez. Dan di depan ada Mourmada Marco, Jean Michael Babouaken dan Colly Misrun. Di sayap kanan ada Supriyono dan di sayap kiri ada Lilik Suheri. Ini tim dengan potensi bagus, pikir saya waktu itu.
Tapi, potensi anak-anak Medan tampak tak mendapat penghargaan justru dari manajemen tim itu sendiri. Sejak era M. Halim dkk lalu M. Affan Lubis dan Bako Sadissou di akhir 1990an sampai pada tim tahun 2001 itu, prestasi terus menurun, bahkan sampai harus terdegradasi ke divisi satu. Pemain seakan tak punya motivasi lagi. Hal ini dapat saja disebabkan karena kurangnya perhatian dan penghargaan dari manajemen klub. Colly Misrun lantas pindah ke PSM Makassar, Supriyono ke Persita Tangerang, Slamet Riyadi ke PSPS Pekanbaru dan setelah berhasil promosi lagi ke divisi utama, sang ikon Edu Juanda dipersilahkan pergi ke Persebaya Surabaya karena dianggap indisipliner. Setelah era itu, sempat muncul bakat-bakat baru yang ada di dalam tim. Sebut saja Marwal Iskandar, Alejandro Tobar, Reswandi, Mahyadi Panggabean, Legimin Raharjo hingga Saktiawan Sinaga yang didatangkan dari PSPS Pekanbaru.
Perlahan namun pasti, PSMS mulai mengasah kembali nama besarnya. Gelar juara Piala Emas Bang Yos tiga kali berturut-turut datang seiring mengkilapnya striker-striker PSMS pada jaman itu seperti Christian Carrasco atau Alcidio Fleitas serta makin matangnya Saktiawan Sinaga. Namun, prestasi bagus di masa pra-kompetisi kurang menular pada kompetisi yang sebenarnya. Dan, klimaksnya (atau anti klimaks) dari penantian panjang akan gelar juara bergengsi Liga Indonesia terjadi di final liga kemarin. Kekalahan dari Sriwijaya FC Palembang dan blunder sang kiper Markus Horison justru bukan jadi pelecut untuk dapat berprestasi bagus di Liga Super yang baru akan dimulai musim depan. Saya teringat akan ucapan sang manajer, Ramli Lubis yang mengatakan Markus tidak akan bisa jadi kiper nomor satu Indonesia dengan penampilan blundernya seperti itu. Entah tujuannya untuk menyemangati atau apa tapi yang jelas komentar seperti itu tidak seharusnya keluar mengingat jasa Markus selama kompetisi reguler yang menghasilkan prestasi paling sedikit kemasukan gol. Setelah itu, masalah besar pun mulai berdatangan.
Manajemen PSMS pernah mendapat komplain dari anggota DPRD Sumut yang mengatakan bahwa laporan keuangan tim ini bagaikan laporan anak SMP. Hal itu pernah saya baca di tabloid Bola yang disertai fotokopi salinan laporan keuangan tim. Yah, mungkin memang banyak yang harus dibenahi jika punya niat menjadikan PSMS Medan menjadi tim profesional. Niat baik dari pengusaha Sihar Sitorus untuk mengurus PSMS Medan mulai Liga Super tahun depan ternyata dianggap dingin oleh manajemen. Manajemen selalu mengeluh soal kebutuhan dana, tapi begitu ada seorang pengusaha yang mau mengurusi PSMS kenapa tak digubris hanya karena masalah pengelolaan stadion teladan untuk beberapa musim kompetisi ke depan?? Tak habis pikir, sudah walikota dan wakilnya bermasalah di KPU kenapa bos-bos besar di balik manajemen PSMS Medan tak cari solusi yang terbaik. Anggapan bahwa Sihar akan memonopoli PSMS dan adanya unsur politik disamping unsur bisnis menurut saya terlalu berlebihan kecuali kalo ingin tetap PSMS jadi tim amatiran. Malah Markus cs yang skill dan potensinya telah terbukti justru diwajibkan untuk ikut seleksi dari awal dalam pembentukan tim baru. Apa maumu manajemen ??!!?? Bukankah akan sangat bijak jika dipertahankan sementara seleksi digunakan untuk mencari bibit baru pelapis tim utama?? Akhirnya Sakti, Mahyadi, Markus, dan Legimin pun hijrah ke Persik Kediri, Supardi ke Pelita Jaya. Gustavo Chena dan James Koko kena cekal larangan bermain di Indonesia, Mbom Julien ke Persema Malang, Masferi Kasim kabarnya ke Semen Padang dan Romi Diaz Putra mungkin ke PKT Bontang. Tak ada lagi yang tersisa. Bahkan, Andhika Yudistira, sang bintang baru pun tengah digoda Sriwijaya FC sembari menunggu ijin dari kedua orangtuanya untuk bermain di luar Medan.
Kenapa manajemen selalu merombak tim setelah kegagalan?? Kegagalan di final kemarin justru dijadikan pelecut untuk membuat prestasi yang bagus di musim baru. Saat bicara tak ada uang dan pada saat yang bersamaan uang datang, kenapa ditolak?? Apa maumu manajemen PSMS?? Rombak total manajemen PSMS dan isi dengan orang-orang profesional yang mengerti industri sepakbola dan tak bermimpi gelar juara dalam satu malam. Lihat Arsenal wahai manajemen PSMS!!!!! Meskipun Sakti cs tak mungkin lagi kembali ke PSMS dalam waktu dekat, rombak seluruh badan kapal PSMS itu, mulai lagi dari nol untuk menemukan potensi pemain yang bagus dan jangan lepas pemain yang telah matang hanya karena kegagalan satu malam lalu syukur2 Sakti cs masih mau lagi main di PSMS. Untuk Sakti cs, semoga sukses di klub baru dan harumkan nama medan lewat prestasi kalian meski PSMS tak kunjung bersinar terang. Horas!!!
Diocehkan oleh Dip Tuadi pada 12:14 PM 0 mengoceh
Kategori: Lagi Nyantai
Kehadiran Yang Mengusik Atau Diusik ?
Ada anggapan dari teman-teman yang mengatakan bahwa Ahmadiyah itu adalah aliran dari Islam, seperti Sunni dan Syiah yang kita kenal memiliki banyak pengikut di kawasan Irak sana. Jadi Ahmadiyah bukanlah agama baru. Dengan demikian berarti permasalahan yang mendasar adalah masalah intern di Islam sendiri. Salah seorang pengurus MUI, seperti yang pernah saya liat di televisi -saya lupa namanya-, pernah mengatakan berkaitan dengan dikeluarkannya fatwa MUI tentang pelarangan penyebaran ajaran Ahmadiyah ini bahwa jika yang menjadi masalah itu adalah perbedaan ajaran dengan Islam maka MUI memiliki pandangan toleransi terhadap ajaran tersebut. Namun disini yang menjadi masalah bukanlah perbedaan ajaran, tetapi penyimpangan ajaran karena berdasarkan para tetua Ahmadiyah pula, ajaran Ahmadiyah ini bukanlah agama baru yang keluar dari Islam. Dan yang menjadi masalah dasar adalah penyimpangan, maka MUI mengeluarkan fatwa yang bikin heboh itu. Lantas, masalah pun semakin meluas kemana-mana, tidak hanya menjadi masalah intern Islam soal penyimpangan ajaran agama tetapi juga menjurus pada aksi-aksi pengerusakan, intimidasi sampai ada yang menyinggung hak asasi manusia. Karena masalah itu tidak dapat diselesaikan secara intern Islam sendiri, maka negara bertanggungjawab untuk meredakan suasana. Menurut pandangan saya yang orang awam dan tidak begitu mengerti tentang hukum atau perundang-undangan, negara ini menjamin kebebasan memeluk agama dan keyakinan. Tentang hal ini merupakan perluasan dari nilai-nilai hak asasi manusia dan sila pertama Pancasila. Negara mengeluarkan putusan-putusan yang obyektif dan tidak memihak untuk memelihara ketentraman dan kerukunan hidup umat beragama. Namun yang menjadi permasalahan baru sekarang, paling tidak menurut saya, adalah rencana penerbitan Surat Keputusan Bersama 3 Menteri yang berkaitan dengan Ahmadiyah sebagai ajaran yang dilarang. Yah, menurut saya tidak ada apa yang benar-benar disebut demokrasi itu. Di dalam demokrasi, masalah pro dan kontra itu seharusnya dicarikan jalan tengah yang tidak merugikan salah satu pihak. Maka dari itu sangat dibutuhkan rekonsiliasi nasional serta pelurusan sejarah, sama halnya seperti pembersihan nama baik korban-korban kemanusiaan ’65 yang telah semena-mena dicap sebagai komunis meski tak jelas juntrungnya namun harus menanggung lenyapnya nyawa orang-orang yang mereka cintai. Halah, kok jadi ngelantur soal demokrasi, rekonsiliasi nasional sampai korban kemanusiaan ’65 . Bukan.. bukan.., bukan itu maksud saya. Itu punya bagian lain.
Sekarang begini, apakah negara sudah benar-benar obyektif dibalik rencana pengeluaran SKB 3 Menteri itu? Who knows..? Tapi saya jelas benar-benar menyayangkan jika SKB 3 Menteri itu jadi diterbitkan. Hal itu sama saja dengan pengeluaran TAP MPRS no. 25 tahun 1966 tentang pelarangan penyebaran Komunisme/Marxisme/Leninisme. Ya, jelas, walaupun dalam skala yang berbeda.. dan kepentingan yang berbeda. Yang satu kepentingan negara dan yang satu kepentingan Islam. Tapi yang saya garisbawahi disini adalah bentuk pelarangan itu. Sudah jadi hal umum jika segala sesuatu yang dilarang maka akan menimbulkan keingintahuan yang lebih besar dari apapun juga. Sekarang begini, apakah benar-benar sudah tidak dapat didudukkan bersama antara pihak Islam, lewat MUI misalnya, dengan pihak Ahmadiyah. Membicarakan permasalahan mereka berdua dengan jalan damai tanpa aksi bakar-bakar masjid kalangan Ahmadiyah? Pihak-pihak yang reaksioner tersebut jelas harus dikenai sanksi hukum, tidak hanya menyudutkan kalangan Ahmadiyah saja. Apapun permasalahan yang ada antara Islam dengan ajaran Ahmadiyah, dimana saya tidak dapat menjabarkannya secara detil karena saya tidak menguasai Al-quran, sebaiknya ditetapkan rambu-rambu diantara mereka berdua. Sanksi akan dikenakan jika ada dari salah satu pihak yang berniat untuk memaksakan, merusak, mengintimidasi atau secara umum merugikan pihak lain. Sekarang, jika kita berbicara masalah bukti, siapakah yang pantas diberikan sanksi tersebut? Apakah pihak Ahmadiyah telah merugikan Islam, atau sebaliknya? Bentuk kerugian seperti apa yang telah diakibatkan? Sebelum dikendalikan oleh emosi sesaat, sangat bijak tentunya untuk mengetahui dengan benar-benar apa yang menjadi masalah dasar atau perbedaan dasar dari setiap masalah yang muncul. Setelah mengerti dan mengetahui, maka tentukan sikap pribadi anda untuk diri anda sendiri sambil mencoba membantu orang-orang lain yang kemudian menyadari kesalahan pandangan mereka sendiri terhadap suatu permasalahan atau pertentangan. Dan yang lebih penting, kembali ke masalah iman. Menurut saya, jika si penganut ajaran tertentu yang sudah memiliki iman terhadap ajaran tersebut, maka menjadi pertanggungjawabannya dan urusannya sendiri selama tidak merugikan orang lain. Mau itu agama atau ajaran/aliran, seharusnya tidak saling mencampuri, dan yang terlebih penting adalah negara tidak boleh mencampuri atau memiliki keterkaitan dengan agama, begitu juga sebaliknya. Ok-lah negara ini dibangun berdasarkan rahmat Tuhan YME, tapi apakah tidak ada tempat bagi seorang atheis disini?
Diocehkan oleh Dip Tuadi pada 10:08 AM 0 mengoceh
Kategori: Lagi Panas
Kenal Film - Part 2
Ada beberapa film yang emang lebih enak ditonton di bioskop, terutama yang make special effect bagus, sehingga jadi ngebantu ngebangun suasana real yang emang diharapkan semua pencipta film. Dulu paling maen ke bioskop bareng si calon dokter buat nonton film yang emang bener-bener bagus dan ga’ pernah sampe freak, sampe harus jadi first time person buat film-film yang baru rilis di Indo. Freak-nya paling ngerayu abis menjurus intimidasi (halah…) ke si calon dokter buat nemenin nonton film horror (bukan produksi dalam negeri tentunya). Ujung-ujungnya jadi kasian juga ama si calon dokter kar’na jadi ga’ bisa tidur malemnya sampe harus ditemenin sampe pagi. Cape' juga akhirnya kalo tiap abis nonton film horror mesti jadi hansip ngeronda tengah malem. But it’s something fun in otherside, he2..
Ok-lah, tentang bioskop ntar lagi aja diomongin. Waktu saya dapet kesempatan buat ngambil data tugas akhir untuk skripsi sekalian kerja praktek di Banda Aceh, saya nemu satu tempat hunting film lagi yang super duper lengkap (khususnya untuk banyak film-film lama yang ga’ bisa saya temuin di Bandung). Tempatnya di jalan Panglima Polem, deket daerah tugu Surabaya. Dengan harga yang agak sedikit mahal dibanding di Bandung, setidaknya saya dapet film-film yang memang udah dicari-cari tapi belon nemu. Selain itu, si cici-cici yang jaga juga bilang bisa aja pesen via email, n’tar dilayanin dengan biaya pengiriman tambahan tentunya. Tapi sampai sekarang saya belon pernah nyoba mesen… balik lagi ke soal biaya. Ternyata si cici itu buka rahasia tentang keheranan saya kenapa kok banyak film-film bagus dan lama kaya’ gitu ga’ bisa saya temuin di Bandung. Si cici bilang kalo semua film yang ada di tokonya itu ternyata bajakan yang langsung dikirim dari Singapur atau Taiwan yang mana judul dari film-film yang dibajak itu ga’ masuk ke Indonesia. Baru 'ngeh saya tentang hal-hal b’gituan. Paling ga’ disamping ada yang harus dikerjain di Banda Aceh, saya dapet banyak bonus.. nemu film-film lama yang udah saya cari-cari di Bandung, ngeracunin orang-orang kantor jadi pecandu film sampe-sampe masang proyektor di mess biar serasa di bioskop –otomatis memperkaya bahan obrolan di masa istirahat dan ga’ kerasa jauh dari lingkungan asal-, nemu/dapet “sayur” dengan harga super murah plus dapet kenalan si mata biru keturunan Portugis yang nemenin kerja di lab. Kimia Unsyiah. What a vacation!!!, I should go back, next time.
Yah, tapi saya juga ga’ pengen selamanya jadi penikmat film bajakan. Kerasa juga capeknya nyari yang bener-bener udah pas dengan apa yang kita cari seperti teks inggris-nya yang ga’ amburadul, aspek rasio sama pewarnaan yang cocok buat nyaman dipandang atau sound yang bener-bener udah bikin nyaman. Kembali lagi seperti yang saya bilang sebelumnya… suatu saat nanti kalo udah jadi orang yang lebih berpunya, pengen punya koleksi versi asli. Jadi sampai dengan saat ini, saya menganggap kalo saya sedang nyeleksi film-film bagus yang layak akan saya beli versi ori-nya. Tapi untuk calon-penikmat-pemula-menjurus-serius, ga’ apa2lah nonton/beli film bajakan awalnya. Who’s to blame??. Nah, mulai sekarang, saya pengen bagi-bagi opini tentang dunia perfilman (nasional maupun internasional), pertelevisian nasional, resensi film-film bagus dan klasik, orang-orang hebat di balik hebatnya sebuah film. Opini-opini ini akan dimulai setelah postingan judul ini. Jadi ibaratnya, postingan part 1 dan 2 ini jadi semacam introduction-lah sebelum masuk ke bagian opininya. Gitu deh boss… itu sudah…
Diocehkan oleh Dip Tuadi pada 10:04 AM 0 mengoceh
Kategori: Lagi Nonton
Kenal Film - Part 1
Menjadi peminat film bermula sekitar kurang lebih dua tahun yang lalu saat ada seorang temen yang ngajakin nonton film Enemy at the Gates-nya --- di kosannya. Sejak dari situ, awalnya saya khusus nyari film-film bertema PD II. Yah, daerah pencarian dimana lagi kalo bukan di Kota Kembang, pusat film-film bajakan di Bandung ini. Well, saya beli bajakan bukannya mendukung pembajakan kreativitas atau kekayaan intelektual, namun apalah daya mahasiswa perantauan yang masih dicatu dari rumah untuk beli film orisinil. Sebenernya emang lebih enak beli yang orisinil kar’na bisa dapet feature tambahan yang ternyata baru saya sadari belakangan kegunaannya. Jika saja harga film-film orisinil yang bagus dan klasik (menurut saya, red.) di negara kita -yang termasuk ke dalam region 3 untuk wilayah penjualan internasional, kalo ga’ salah sih- paling engga’, ga’ beda jauh dengan harga satu piring nasi lengkap dengan sayur, sepotong tempe dan daging plus segelas jus jambu (kenapa jus jambu? kar'na kata ma2 jus jambu bagus buat nangkal demam berdarah yang ga' pernah ada matinya nyebar di negara ini) yang dijual di warung makan di pinggir jalan-jalan kota Bandung, bukan ga’ mungkin pula setiap film yang saya beli adalah film orisinil. Tapi bagaimana mau dikata lagi di tengah kondisi ekonomi yang ga’ semakin membaik ini. Paling ga’, saya punya niat kalo udah punya duit lebih nanti, ada beberapa judul film-film bagus yang mau saya beli versi orisinilnya. Yeah, I hope…
Balik lagi tentang jaman awal jadi penikmat film. Waktu masih sering bareng temen ke Kota Kembang, cuman film-film PD II atau film perang dengan setting daerah berbeda yang saya cari. Dan yang terlebih lagi, saya mengharamkan film perang produksi Hollywood ala John Rambo yang buat saya tidak masuk akal dan one man show yang terlalu berlebihan. Lantas, di lain waktu, ada temen lain yang ngenalin tempat selain Kota Kembang di daerah jalan Ambon, saya nemuin tempat baru yang lebih adem tentunya dibanding Kota Kembang. Di tempat ini pula saya mulai kenal majalah film yang saya sebut diatas tadi. Frekuensi ke Kota Kembang pun makin berkurang, meski kadang masih kesana untuk cari film lama yang ga’ ada di jalan Ambon. Selain yang di jalan Ambon itu, saya juga nemu tempat lain yang lumayan enak di Pasteur Hyperpoint. Yah, selain deket ama kosan, di tempat ini juga sekalian bisa cuci-cuci mata milih bokep full ato semi, sesekali (bo’ong deng… he2). Tapi sayang, sekarang ga’ bisa lagi cuci-cuci mata disitu kar’na mas-mas yang biasa udah pindah kerja ke Indovision katanya. Alhasil, film-film “manis” itu langsung dipegang ama si boss yang saya ga’ pernah kenal siapa. Wess… udahlah, ga’ usah ngomongin tentang bokep lagi. Balik ke sejarah penemuan tempat-tempat hunting film.
Setelah itu semua, saya di-kasi-tau sama mas-mas yang jaga di jalan Ambon kalo mereka punya tempat laen di daerah jalan Taman Sari. Well, lumayanlah… sekalian deket ama kampus plus tinggal lewat fly over dari kosan. Ga’ terlalu jauh, apalagi kalo malem-malem musti jauh-jauh ke jalan Ambon. Serem geng motor bo… (banci narsis mode on… he2..). Koleksi yang ada di jalan Taman Sari ini ternyata jauh lebih lengkap, setidaknya pada awal saya kenal tempat ini, dibanding yang di jalan Ambon. Setelah tau tempat itu, saya dikenalin lagi tempat laen ama temen di daerah Pagarsih. So, itulah sejarah saya kenal tempat-tempat hunting film di Bandung (bajakan off course).
Setelah bosen nonton film-film tentang perang, saya mulai nyari-nyari jenis lain dengan bantuan majalah film itu atau dari browsing di net. Film non-perang atau berkaitan dengan intrik perang pertama yang saya tonton adalah Cars, film kartun tentang mobil-mobilan bisa ngomong yang ternyata memupus ke-haram-an saya untuk nonton film-film produksi Hollywood. Yeah, butuh penyegaran juga sesekali. Akhirnya sampai dengan tulisan ini dibuat, koleksi film saya, baik itu ori atau pirated, udah berkisar 600-an judul film. Dan untungnya, sekarang udah lebih selektif dalam membeli film yang benar-benar bagus –menurut resensi dari sana-sini- atau penasaran pengen nonton, ga’ seperti jaman dulu yang masih lebih banyak cuman baru liat dari judul ato sinopsis di balik sampul.
Diocehkan oleh Dip Tuadi pada 10:01 AM 0 mengoceh
Kategori: Lagi Nonton




